.
Kenali 4 Fakta Badai Sitokin, Penyebab Kematian Pada Pasien COVID-19
Masih ingat kasus artis Raditya Oloan yang meninggal beberapa waktu lalu, karena badai sitokin? Badai sitokin adalah salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien COVID-19. Badai sitokin bukan penyakit baru, namun cukup mengkhawatirkan dan perlu Kamu waspadai. Sebab, badai sitokin dapat menyebabkan gagal fungsi organ hingga berujung kematian.

Kenali 4 Fakta Badai Sitokin, Penyebab Kematian Pada Pasien COVID-19

bisril.info – Kenali 4 Fakta Badai Sitokin Masih ingat kasus artis Raditya Oloan yang meninggal beberapa waktu lalu, karena badai sitokin? Badai sitokin adalah salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien COVID-19.

Badai sitokin bukan penyakit baru, namun cukup mengkhawatirkan dan perlu Kamu waspadai. Sebab, badai sitokin dapat menyebabkan gagal fungsi organ hingga berujung kematian.

Jadi, apa sebenarnya badai sitokin? Kenali 4 faktanya berikut ini!

Penyebab Badai Sitokin

Sitokin pada dasarnya adalah salah satu protein yang turut berperan dalam sistem imun. Sitokin membantu sistem imun untuk melawan bakteri/ virus penyebab infeksi.

Akan tetapi, jika tubuh memproduksi sitokin secara berlebihan justru menyebabkan kerusakan. Inilah yang pada akhirnya terkenal dengan sebutan badai sitokin.

Di mana kondisi tubuh terlalu banyak melepas sitokin sehingga membuat sistem imun menyerang jaringan sel yang sehat. Akibatnya, muncul peradangan hingga gagal fungsi organ di dalam tubuh.

Pemicu munculnya sindrom badai sitokin adalah infeksi virus. Virus menggandakan diri dengan cepat setelah berhasil menginfeksi sel. Ketika sel merasakan bahaya, maka dia akan merespon dengan membunuh dirinya sendiri.

Apabila sel-sel yang melakukan hal ini secara bersamaan, akibatnya banyak jaringan yang akan mati.

Perlu Kamu ketahui, pada pasien yang terpapar virus COVID-19, sebagian jaringan berada di paru-paru. Itulah mengapa, pasien covid sering mengalami  pneumonia/ kekurangan oksigen.

Karena alveoli akan penuh dengan cairan sehingga menutup kemungkinan terjadi pertukaran oksigen. Tak heran, jika pasien COVID-19 sering mengeluh sesak napas.

Gejala Badai Sitokin

Beberapa  pasien COVID-19 yang mengalami badai sitokin menunjukkan gejala sesak napas dan demam tinggi, hingga membutuhkan ventilator. Ada pula pasien yang mengalami gejala lain, seperti :

  • Kelelahan
  • Mual
  • Sakit kepala
  • Batuk
  • Kedinginan hingga menggigil
  • Halusinasi
  • Penggumpalan darah
  • Napas cepat
  • Kejang
  • Ruam kulit
  • Pembengkakan pada tungkai
Baca Juga  Ini Dia Gejala Radang Usus Buntu Yang Patut Kamu Waspadai

Badai Sitokin Tidak Hanya Terjadi Pada Pasien COVID-19

Pada dasarnya badai sitokin dapat terjadi karena beberapa infeksi, termasuk influenza, sepsis atau pneumonia. Sindrom badai sitokin bisa juga terjadi pada penderita autoimun atau pasien dalam pengobatan kanker.

Bahkan kasus flu burung yang terjadi beberapa tahun silam, tingkat kematian sebagian penderita juga berkaitan dengan sindrom badai sitokin.

Badai sitokin dapat menjelaskan bahwa sebagian orang menunjukkan reaksi berbeda terhadap virus, terkait dengan sistem imun di dalam tubuh.

Sehingga terjawab mengapa orang berusia muda yang terpapar COVID-19 sebagian besar hanya menunjukkan gejala ringan. Penyebabnya adalah  kekebalan tubuh pada orang yang lebih muda menghasilkan sitokin lebih rendah.

 

Cara Mencegah Sindrom Badai Sitokin

Pasien dengan COVID-19 membutuhkan vitamin D untuk mencegah kondisi tubuh bertambah kritis serta membantu proses pemulihan. Sebab vitamin D dapat mengoptimalkan kerja sistem imun untuk melawan virus dan berperan sebagai imunomodulator.

Dengan konsumsi vitamin D, tubuh akan mendapatkan sistem imun secara alami untuk mengeliminasi benda asing yang masuk.

Pasien yang mengalami badai sitokin penyebabnya adalah zat-zat sistem imun overdrive sehingga menyebabkan hiper inflamasi. Nah, di sinilah peran vitamin D.

Karena vitamin D dapat menurunkan fungsi sistem imun yang adaptif. Untuk itulah, Kamu bisa melakukan beberapa cara guna meningkatkan kadar vitamin D di dalam tubuh.

Misalnya:

  • Mengonsumsi banyak makanan yang mengandung vitamin D, antara lain: ikan salmon, jus jeruk, susu atau ikan tuna.
  • Berjemur pada pagi hari

Demikian informasi terkait sindrom badai sitokin, yang cukup membahayakan nyawa. Agar dapat terhindar dari kondisi ini, sebaiknya Kamu selalu mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah di mana pun berada. Karena mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Baca Juga  Hobi Main Game Online? Ikuti Tips Menjaga Kesehatan Mata Berikut Ini!

Artikel yang lain :

  1. Tips Cara Hilangkan Jerawat Secara Alami
  2. 4 Cara Turunkan Berat Badan Secara Alami Tanpa Obat-obatan
  3. Badan Terlalu Kurus? Begini Cara Menambah Berat Badan Secara Alami

 

About Bisril Hafiz

Check Also

Ini Dia 5 Gangguan Kesehatan Yang Sering Muncul Pasca Idul Adha

Ini Dia 5 Gangguan Kesehatan Yang Sering Muncul Pasca Idul Adha

bisril.info – Tak terasa, sebentar lagi umat Islam akan menyambut Hari Raya Idul Adha atau …

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x